“Sel kanker unik dan kompleks. Ini menggugah saya untuk menelitinya,“ kata Dr. Nunuk Aries Nurulita, M.Sc.,Apt. Beliau dosen sekaligus juga mantan Dekan Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Alumni S1 Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mulai meneliti sel kanker sejak tahun 2002. Riset tersebut dilanjutkannya ketika menempuh Program Pasca Sarjana di Fakultas Farmasi UGM. Penelitian sel kanker semakin dimantapkannyaa ketika beliau menyelesaikan disertasi program doktoral di kampus yang sama.
 
Disertasinya yang berjudul Co-chemotherapeutic potency of Gynura procumbens (Lour.) Merr. on Colon Cancer and Breast Cancer: defining its target and molecular mechanism berhasil menunjukkan ada senyawa dalam tanaman sambung nyawa (gynura procumbens) memiliki potensi antikanker. Senyawa ini dapat digunakan sebagai agen pendamping obat antikanker. Bila itu dikembangkan akan mampu menjadi agen penghambat laju resistensi sel kanker.  Dr.Nunuk  menjelaskan, kanker payudara dan kolon merupakan neoplasma malignan dengan insidensi tinggi serta mengakibatkan kematian lebih dari 30 % penderita. Sekarang telah banyak dilakukan upaya peningkatan daya hidup pasien penderita kanker ini dengan menggunakan agen kemoterapi. Tetapi adanya target obat yang tidak spesifik menimbulkan efek samping serius dan menyebabkan Multi Drug Resistance (MDR).
 
Dr. Nunuk Aries Nurulita, M.Sc.,Apt  meyakinkan, kasus yang muncul di atas merupakan permasalahan utama dalam terapi kanker. Beberapa penelitian menunjukkan fenomena resistensi sel kanker terkait erat dengan peningkatan level ekspresi Protein P-Glycoprotein (P-gp). Protein jenis ini yang lalu mengeluarkan obat dari sel. Senyawa  dalam tanaman sambung nyawa sudah terbukti dapat menurunkan level protein P-gp hingga menghambat laju resistensi sel kanker, terutama kanker payudara. Jadi, terapi atau pengobatan pun bisa lebih efektif.
 
Dari penelitian yang telah dilakukan, Dr. Nunuk Aries Nurulita, M.Sc.,Apt  menyimpulkan, senyawa dalam sambung nyawa mempunyai potensi  sangat besar untuk dikembangkan sebagai agen kemoterapi kanker. Sambung nyawa mempunyai target spesifik pada modulasi integritas mikrotubulus.  Sambung nyawa dapat membalikkan resistensi sel melalui penghambatan ekspresi P-gp. Sambung nyawa memilki potensi besar untuk menekan efek samping dan mengatasi permasalahan resistensi pada kanker payudara. Nunuk berharap hasil penelitiannya ini suatu saat nanti bisa memberikan manfaat yang luas bagi kemanusiaan, terutama bagi penderita kanker. Sampai saat ini, hasil penelitiannya telah dipublikasikan di beberapa jurnal internasional dan nasional.
 
Dr. Nunuk Aries Nurulita, M.Sc.,Apt  adalah gambaran dosen UMP yang memiliki konsistensi tinggi pada penelitian. Jabatannya dulu  sebagai dekan fakultas farmasi, sama sekali tidak menghambat kegiatan penelitiannya. “Setelah amanah jadi dekan ini selesai, saya lebih senggang dan bisa fokus mengerjakan penelitian,” tuturnya. Konsistensi jugalah yang mengantarkan Nunuk menjadi juara 3 dosen berprestasi dalam pemilihan Tenaga Pendidikan dan Kependidikan (DIKTENDIK) tingkat Kopertis Wilayah 6 Jawa Tengah. Event tersebut  diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Presentasi research project unggulannya yang berjudul “Elucidating the potency of Sambung Nyawa (Gynura procumbens (Lour) Merr.) as chemopreventive and co-chemotherapeutic agent against breast cancer and cervix cancer” berhasil memikat dewan juri dengan baik. Di beberapa waktu sebelumnya, tahun 2010, Nunuk juga  menjadi juara harapan 1 dosen berprestasi dalam ajang yang sama.  Tidak hanya itu, prestasi lain yang telah dicapai antara lain, Nunuk mendapatkan penghargaan The 2nd Best Oral Presenter in 1st APTFI Congress and 48th POKJANAS TOI Makasar, 2015 dan The Best Oral Presenter in Medan International Pharmaceutical Sciences, 2014. “Kalau jadi dosen maka kita tidak boleh jenuh dengan kegiatan mengajar, penelitian dan pengabdian,” pesannya. 
 
Istiqomahnya Dr. Nunuk Aries Nurulita, M.Sc.,Apt terhadap dunia penelitian berasal dari  nilai-nilai disiplin dan kemandirian yang didapatnya lewat didikan orang tua. Semasa kecil,  beliau terbilang kenyang dengan nilai tersebut. Ayahnya seorang guru yang begitu ketat menjaga kedisiplinan. Sementara, ibunya  wiraswasta handal. Dari sang ibu ini Dr. Nunuk Aries Nurulita, M.Sc.,Apt mengecap keuletan dan juga prinsip harus tuntas  mengerjakan segala hal. Kedisiplinan, ulet, dan tuntas lalu mengantarkan Nunuk menjadi langganan rangking 1 selama di SLTP dan SLTA. Kemandiriannya pun telah kuat  terbentuk ketika ayahanda tercinta meninggal dunia. Kedewasaannya tumbuh cepat karena tantangan yang semakin besar tanpa figur ayah. Tak ada yang pernah terbuang sia-sia. Watak dan kepribadian masa kecil terus membekas.  Nilai itu ia terapkan juga ketika melakukan penelitian. Sasarannya cuma satu : menuntaskan apa yang telah ia mulai hingga memberikan manfaat bagi orang lain. “Ada kepuasan tersendiri bagi peneliti jika hasil akhirnya dapat memberikan manfaat,” tuturnya. Di kala waktu santai, Nunuk lebih memilih menghabiskannya untuk berkebun. Sepetak tanah  di sudut rumah berhasil ia sulap menjadi taman bunga nan indah. Anggrek mendominasi. Tak lupa juga beberapa jenis tanaman obat.  Nunuk menanam sendiri. Lalu merawatnya, juga dengan tangannya sendiri, setiap hari.